Skip to content

Kasus DBD di Kaltim Meningkat Tajam, Warga di Minta Waspada

Dipublikasikan: 22 Sep 2022, 17:00
ADVERTORIAL
Kasus DBD di Kaltim Meningkat Tajam, Warga di Minta Waspada
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin (Foto: Istimewa)

KALTIMNEWS.CO, Belum genap satu tahun, jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kalimantan Timur (Kaltim), telah menembus angka tiga ribu kasus, padahal berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim 2021, laporan temuan kasus DBD terhitung selama satu tahun berjumlah 2.898 kasus

"Terjadinya lonjakan kasus ini perlu menjadi perhatian bersama khususnya masyarakat untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dan perketat kebersihan lingkungan, terlebih saat sekarang ini dimana kita ketahui jumlah pasien DBD di Kaltim telah menembus angka 3.034 orang, terhitung hingga bulan Agustus 2022," ucap Kadinkes Kaltim, Jaya Mualimin kepada media ini, Kamis (22/9/2022).

Dia menjelaskan bahwa tiga wilayah yang mengalami lonjakan kasus DBD di Kaltim, tiga wilayah itu yakni Berau, Kutai Barat (Kunbar) dan Mahakam Ulu.

“Berdasarkan data 2021 kemarin ditemukan 78 kasus positif DBD (Berau) dan dua orang di antaranya dinyatakan meninggal dunia, sedangkan laporan data tahun 2022 terhitung hingga Agustus di wilayah yang sama ditemukan 268 kasus DBD dengan korban satu orang meninggal dunia,” terangnya.

“Begitupun dengan wilayah Kubar sepajangn 2021 kemarin tercatat  49 kasus yang terjadi diwilayah tersebut, namun hingga Agustus 2022 mengalami peningkatan tajam dengan jumlah kasus 163. Begitupun di Mahulu, sepanjang  2021 ditemukan 35 kasus DBD, dan pada tahun 2022 ini didapati 57 kasus positif DBD,” lanjutnya.

Menurutnya, tren peningkatan kasus ini terjadi seiring dengan mulai tingginya mobilitas warga di masa pemulihan pasca pandemi COVID-19 saat ini. Hal itu terbukti di salah satu wilayah yang ia sebutkan.

“Di Mahulu misalnya, didapati bahwa sebagian besar pasien DBD yang terjangkit dikarenakan aktivitas bepergian yang cukup masif keluar dan dalam kota. Disamping itu, faktor kebersihan lingkungan pun jadi penentu, sebab kita tahu bahwa penyakit ini terjadi dikarenakan nyamuk Aedes Aegypti, yakni adanya jentik-jentik yang ditemukan di penyimpanan air,” jelasnya. (*/Dinas Kominfo Kaltim)