Skip to content

Melirik Kelola Listrik Komunal Muara Enggelam Kutai Kartanegara

Menjadi Tolak Ukur Pembelajaran Beberapa Daerah di Indonesia

Dipublikasikan: 01 Oct 2022, 10:00
ADVERTORIAL
Melirik Kelola Listrik Komunal Muara Enggelam Kutai Kartanegara
Ramsyah, Direktur BumDes Bersinar Desaku saat memperlihatkan ruangan Kelola Listrik Komunal Muara Enggelam (Klik-Me) (Foto: Dok/Kaltimnews.co)

KALTIMNEWS.CO, Keberadaan listrik sekarang ini memang menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat Indonesia, namun hingga sekarang ini suplay akan kebutuhan listrik tersebut hampir belum bisa dipenuhi oleh Perusahan Listik Negara (PLN) lantaran kondisi geografis wilayah yang sulit dijangkau.

Hal tersebut juga terjadi di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim), Desa Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara (Kukar) misalnya yang hingga saat ini belum menerima pasokan listrik dari perusahaan BUMN tersebut.

Namun hal tersebut bukanlah menjadi masalah bagi warga yang bermukim diatas danau melintang tersebut. Kekurangan ini justru menjadi peluang bagi mereka dalam mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal atau Kelola Listrik Komunal Muara Enggelam (Klik-Me).

Tepatnya di 2015 silam, berbekal dari seperangkat panel solar cell dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) senilai Rp3,5 miliar dalam bentuk perangkat panel tenaga matahari ini kemudian memberi angin segar buat warga yang jauh dari akses ke kota Tenggarong itu.

Kehadiran Klik-me di wilayah ini, kemudian menggeser peran genset yang selama ini menjadi kebutuhan utama warga desa tersebut, hal ini tidak dipungkiri mengingat harga genset yang terbilang mahal membuat segelintir masyarakat desa saja yang mampu merasakan listrik kala itu.

Selain persoalan harga, Klik-me juga dinilai lebih efeisien, pasalnya warga yang menggunakan ganset harus merogoh kocek rata-rata Rp 30.000/hari dengan jam operasional selama 6 jam/hari.

Sementara dengan menggunakan listrik komunal warga lebih mendapatkan tarif yang lebih enteng yakni Rp3.000 / hari bagi masyarakat mampu. “Adapun bagi warga kurang mampu hanya dikenakan tarif Rp 9,-/ Watt per hari nya. Dengan total daya masing masing warga atau Kepala Keluarga (KK) adalah 350 watt/rumah,” ujar Direktur Badan Usaha Milik Desa (BumDes) "Bersinar Desaku", Ramsyah kepada Kaltimnews.co beberapa waktu yang lalu.

Klik-me yang dikelola oleh BumDes Bersinar Desaku tersebut, terbilang sukses dalam pengelolaannya. Sebut saja sejumlah unit usaha milik warga setempat kini merasakan imbas dari kehadiran listrik komunal tersebut. 

Dengan kehadiran listrik bertenaga surya tersebut warga kemudian bisa mengembangkan sejumlah usaha seperti budidaya walet yang kini mengalami peningkatan yang cukup tajam.

Dari data yang didapatkan media ini, awalnya budidaya rumah walet didesa ini, hanya bisa dihitung dengan jari, namun sekarang rumah walet sudah mencapai sedikitnya 80 rumah.

“Pemanfaatan aliran listrik komunal untuk memutar audio suara burung walet sepanjang hari (24 jam) memang merupakan hal yang paling utama dalam memikat wallet untuk membuat sarang di rumah wallet warga,” sebut Ramsyah.

Keberadaan klik-me kemudian seolah menjadi mahnet tersendiri dalam memperlihatkan segudang prestasi yang selama ini tersimpan di Muara Enggelam.

Replikasi Pengelolaan PLTS Komunal di Desa ini, bahkan dijadikan tolak ukur dan pembelajaran beberapa daerah atau desa yang ikut mengelola listrik komunal dengan melakukan studi banding dan pembelajaran di Desa Muara Enggelam sebagai distinasinya.

Dalam catatannya sudah ada tiga desa dari Sulawesi Selatan (Sulsel), tiga desa dari Nusa Tenggara Timur (NTT), dan beberapa desa dari Kubar maupun Mahulu sudah melakukan kunjungan dan pembelajaran di desa Muara Enggelam.

“Saya heran jika desa kami tertinggal, namun banyak desa yang belajar ke tempat kami, terutama dalam pengelolaan Bumdes, dan manajemen keuangannya. Yang kami pikirkan sepertinya mereka belum bisa mengelola PLTS dengan baik. Jadi datang ke Desa kami untuk studi banding soal itu. Karena kami bisa dibilang sukses lah dalam mengelola PLTS ini,” sebut Ramsyah.

Menurutnya hal sederhana yang ia lakukan selama ini dalam system mengelola listrik komunal salah satunya yakni membangun kepedulian bersama antara satu warga dengan warga lainnya.  

“Sistem subsidi ini diberlakukan Desa Muara Enggelam untuk membangun kepedulian bersama terhadap masyarakat yang kurang mampu agar bisa menikmati listrik secara bersama-sama, secara tidak langsung kehadiran Klik-me juga menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menjaga aset milik desa sebagai aset milik bersama. Hal itu terlihat dengan adanya pemberian penghargaan bagi warga, yang melaporkan tindakan pencurian listrik, dan sanksi bagi pelanggan yang melakukan pencurian pemakaian listrik,” jelasnya.

Selain menjadi salah satu distinasi studi banding beberapa desa di Indonesia, keberhasilan Desa Muara Enngelam dalam mengelola listrik komunal juga unggul dalam sektor pelayanan publik. Hal tersebut terlihat dengan beberpa kalinya Desa tersebut berhasil masuk dalam top 99 inovasi pelayanan publik dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi atau Kemenpan RB atau Kemenpan-RB.

Untuk bisa masuk dalam top 99 tersebut tentunya bukanlah hal yang mudah mengingat salah satu persyaratannya adalah minimal pelayanan publik telah berjalan minimal tiga tahun, kemudian bersifat sustainable atau berkelanjutan, dapat dirasakan manfaatnya oleh orang banyak, hingga dapat menjadi percontohan daerah lain.

Selain mengukir sejarah diajang bergengsi kemenpan-RB tersebut sejumlah catatan prestasi juga telah di torehkan BUMDes Muara Enggelam.

“Seperti diantaranya meraih penghargaan Top 99 inovasi pelayanan Publik di 2018, yang disusul dengan juara satu kategori inovasi Bumdes se-Kaltim 2019, Top 99 Inovasi pelayanan Publik kemenpan RB 2020. Bahkan Bumdes Bersinar Desaku pernah mendapatkan undangan khusus dari kementerian ESDM, karena PLTS kami atau Klik-me masih eksis hingga kini. Bahkan bisa menghasilkan sekitar 16 hingga 20 juta per bulannya,” beber Ramsyah.

Selain rumah walet, dengan kehadiran listrik komunal tersebut sebagian warga kini dapat membuat usaha rumahan seperti air minum isi ulang, TV kabel berbayar, moulding maupun pasar desa. (*)