KALTIMNEWS.CO.Samarinda - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Parlemen Jalanan (APJ) menggelar aksi momentum hari buruh internasional 01 Mei ini. Aksi yang diwarnai pembakaran ban bekas hingga sempat blokade jalan, menuntut kesejahteraan yang menjadi hak buruh.
"Kita ketahui di Indonesia banyak buruh tapi taraf kehidupannya masih banyak dibawah standar. Kami mengacu pada PP 78 terkait pengupahan. Buruh sebagai penggerak ekonomi Negara, masih jauh dari kesejahteraannya," kata Humas Aksi Meykel Kesuma kepada wartawan KaltimNews.co Rabu (1/5) di Depan Gerbang Kampus Universitas Mulawarman, Samarinda.
Lima tuntutan digaungkan. Pertama mencabut PP No 78 tahun 2018 dan hentikan politik upah murah. Kedua menghapuskan sistem kerja outsourching. Ketiga mencabut PerPres No 20 tahun 2018 tentang Tenaga Kerja Asing. Keempat memberikan hak dan perlindungan pada buruh perempuan. Terakhir, kembali mengusut tuntas kasus Marsinah dan tolak pembungkaman demokrasi dan represifitas aparat terhadap gerakan rakyat.
Gerakan ini diinisiator oleh Ek. LMND Samarinda, GMNI Samarinda dan diikuti LSK Samarinda. Menurutnya, masalah buruh di Kaltim, masih tak ada perubahan. Kesejahteraan, kepastian jaminan sosial hingga pemotongan upah masih banyak ditemui dimana-mana.
Korlap Aksi Isodorus menambahkan, masih banyak masalah yang dihadapi buruh saat ini. salah satunya, praktik penindasan oleh kelompok pemodal terhadap buruh. “Menyambut momentum hari buruh yang perlu dilakukan ialah menyampaikan apa yang menjadi masalah dan hak buruh," katanya.
Meski sempat membuat arus di sekitar Jalan M. Yamin macet, namun aksi berjalan dengan lancar dari awal hingga akhir.