KALTIMNEWS.CO — Menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) IX Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kalimantan Timur, aroma kontestasi mulai terasa semakin nyata. Nama-nama kandidat yang sebelumnya hanya bergerak dalam komunikasi internal kini perlahan tampil terbuka membawa kekuatan dukungan masing-masing.
Di Hotel Puri Senyiur Samarinda, tempat Muswil akan digelar akhir Mei nanti, dinamika itu mulai terlihat sejak tahapan pengembalian formulir pencalonan ditutup. Dua figur dipastikan resmi masuk dalam bursa calon Ketua BPW KKSS Kaltim periode 2026–2031 setelah menyerahkan berkas pendaftaran kepada Panitia Pemilihan dan Verifikasi (Panliver) Muswil IX KKSS Kaltim.
Kedua nama tersebut adalah H Muhammad Nasir dan Dr H Ridwan Tasa.
H Muhammad Nasir datang membawa dukungan empat Badan Pengurus Daerah (BPD), yakni Bontang, Mahakam Ulu, Kutai Kartanegara, dan Kutai Timur.
Sementara Dr H Ridwan Tasa mengantongi dukungan lebih besar, yakni enam BPD dari total 10 kabupaten dan kota di Kalimantan Timur, meliputi Samarinda, Kutai Barat, Penajam Paser Utara, Paser, Balikpapan, dan Berau.
Tetapi bagi Panitia Pemilihan dan Verifikasi, kontestasi belum benar-benar dimulai. Sebab setelah tahapan pendaftaran selesai, pekerjaan berikutnya justru dianggap paling menentukan: memeriksa seluruh dokumen dan memastikan setiap dukungan yang dibawa kandidat benar-benar sah secara organisasi.
Ketua Panitia Pemilihan dan Verifikasi (Panliver) Muswil IX KKSS Kaltim, Zulkifli Alkaf, mengatakan seluruh berkas kandidat akan diverifikasi ulang sebelum nantinya diserahkan kepada BPW KKSS Kaltim untuk penetapan resmi calon ketua.
“Berkas para kandidat bakal kami verifikasi lagi. Jika semuanya tidak ada masalah, maka mereka selanjutnya akan ditetapkan sebagai calon Ketua KKSS Kaltim periode 2026–2031,” kata Zulkifli Alkaf kepada media ini, Kamis, 21 Mei 2026.
Di dalam organisasi paguyuban seperti KKSS, tahapan verifikasi bukan sekadar proses administratif biasa. Di situlah legitimasi kandidat mulai diuji.
Salah satu yang menjadi perhatian panitia adalah surat dukungan dari Badan Pengurus Daerah (BPD) kabupaten dan kota yang menjadi syarat utama pencalonan. Panliver ingin memastikan seluruh dukungan benar-benar berasal dari struktur resmi organisasi di daerah.
“Kami ingin memastikan semua adalah dukungan yang sah dari BPD. Kami mengantisipasi adanya dukungan berupa surat scan, maka dari itu kami harus melakukan klarifikasi kepada masing-masing BPD yang memberikan surat dukungan kepada para kandidat,” ujar Zulkifli.
Pernyataan itu sekaligus memperlihatkan bahwa Muswil IX KKSS Kaltim kali ini berjalan dengan tensi yang berbeda dibanding periode sebelumnya. Dukungan antarwilayah mulai diperhitungkan secara serius sejak awal tahapan pencalonan.
Namun pertarungan sesungguhnya diperkirakan tidak hanya berada di level dukungan BPD.
Di tubuh KKSS Kaltim, terdapat 24 pilar organisasi yang memiliki hak suara dan diprediksi menjadi penentu arah kemenangan dalam Muswil nanti. Selain itu terdapat tambahan empat suara dari badan otonom, satu suara dari BPW KKSS Kaltim, serta satu suara dari BPP KKSS.
Konstelasi itu membuat seluruh kandidat kini mulai bergerak membangun komunikasi lebih luas ke berbagai elemen organisasi.
Dr M Arifin, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman sekaligus pemerhati sosial budaya, menilai kontestasi Muswil IX KKSS Kaltim kali ini memperlihatkan dua wajah sekaligus: persaingan politik organisasi dan upaya menjaga tradisi kekeluargaan yang selama ini menjadi identitas KKSS.
“Muswil kali ini menarik karena ada dua arus yang berjalan bersamaan. Di satu sisi terlihat adanya konsolidasi politik yang cukup kuat antarpendukung kandidat. Tetapi di sisi lain, semua pihak juga tetap berusaha menjaga kultur persaudaraan agar organisasi tidak terpecah setelah pemilihan selesai,” ujar Arifin.
Menurut dia, dukungan BPD memang menjadi modal awal penting, tetapi belum cukup untuk memastikan kemenangan kandidat di forum Muswil.
“Yang akan menjadi penentu justru komunikasi kandidat terhadap pilar-pilar KKSS. Karena 24 pilar ini punya pengaruh sosial yang besar dan memiliki kedekatan langsung dengan basis komunitas warga Sulawesi Selatan di Kalimantan Timur,” katanya.
Arifin menilai Ridwan Tasa saat ini memiliki keunggulan dari sisi dukungan awal BPD karena berhasil menguasai enam daerah strategis, termasuk Samarinda dan Balikpapan yang selama ini dianggap memiliki pengaruh besar di internal organisasi.
“Ridwan Tasa terlihat unggul dalam konsolidasi wilayah. Dukungan enam BPD menunjukkan kemampuan komunikasi politik yang cukup kuat di tingkat daerah,” ujarnya.
Namun menurut dia, H Muhammad Nasir juga memiliki peluang besar karena dinilai memiliki kedekatan emosional dengan sejumlah jaringan pilar dan tokoh senior KKSS.
“Nasir bisa saja unggul dalam pendekatan personal dan komunikasi kultural. Dalam organisasi paguyuban seperti KKSS, kedekatan emosional sering kali lebih menentukan dibanding sekadar hitungan dukungan awal,” katanya.
Arifin juga menilai empat suara badan otonom serta suara BPW dan BPP nantinya berpotensi menjadi faktor penyeimbang apabila pertarungan berlangsung ketat.
“Kalau pertarungan dua kandidat ini nanti ketat, maka suara badan otonom, BPW, dan BPP bisa menjadi penentu arah akhir kemenangan,” ujarnya.
Sementara itu, kedatangan Ridwan Tasa saat menyerahkan berkas pencalonan sempat menjadi perhatian sejumlah tokoh KKSS yang hadir di lokasi. Ia disambut dengan prosesi pengalungan sarung tenun oleh Ketua Kerukunan Keluarga Besar Makassar (KKBM) Kaltim, H Muhammad Jawad, sebelum menyerahkan berkas pencalonan kepada panitia.
Dalam kultur organisasi seperti KKSS, simbol-simbol semacam itu sering kali memiliki makna lebih dari sekadar seremoni adat. Ia dibaca sebagai bentuk penghormatan sosial sekaligus penanda adanya dukungan politik yang mulai mengeras di internal organisasi.
Meski demikian, Zulkifli menegaskan Panliver tidak memiliki kewenangan menentukan siapa kandidat yang layak bertarung di Muswil.
“Panliver hanya bertugas menerima pendaftaran dan melakukan pemeriksaan administrasi awal terhadap dokumen bakal calon. Adapun penentuan kelayakan kandidat menjadi kewenangan BPW KKSS Kaltim,” katanya.
Menurut dia, setelah seluruh tahapan verifikasi selesai, panitia pelaksana akan menggelar rapat pleno sebelum menyerahkan hasil pemeriksaan kepada BPW KKSS Kaltim. Dalam forum Muswil nanti, nama-nama yang dinyatakan memenuhi syarat administrasi akan diumumkan sebagai calon resmi Ketua KKSS Kaltim.
Muswil IX KKSS Kaltim sendiri dijadwalkan berlangsung pada 31 Mei mendatang. Waktu menuju forum pemilihan tinggal menghitung hari. Namun di balik suasana kekeluargaan yang selalu menjadi identitas KKSS, konsolidasi dukungan kini terus bergerak diam-diam dari satu daerah ke daerah lain.
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, peta pertarungan Ketua KKSS Kaltim mulai terlihat terbentuk jauh sebelum palu Muswil diketuk. (rif/kaltimnews.co)