KALTIMNEWS.CO — Langit Samarinda masih gelap ketika aktivitas mulai terlihat di kawasan Jalan Ulin Nomor 15, NSR Building, setiap Jumat dini hari. Di saat sebagian besar warga masih terlelap, puluhan orang justru sibuk menyiapkan ratusan bungkus nasi kuning yang akan dibagikan kepada masyarakat melalui program rutin “Jumat Berkah”.
Kegiatan sosial tersebut digagas bakal calon Ketua KKSS Kaltim, Muhammad Nasir atau yang akrab disapa H. Nasir bersama komunitas GSSB, sebuah komunitas sosial yang dibangun bersama sejumlah rekan dan relawannya untuk memperkuat semangat kebersamaan dan kepedulian sosial di Samarinda.
Program Jumat Berkah telah menjadi agenda tetap yang digelar setiap hari Jumat sejak 2018. Kegiatan itu bukan lagi sekadar pembagian makanan, melainkan perlahan tumbuh menjadi ruang sosial yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam semangat gotong royong dan solidaritas.
Sejak subuh, para relawan terlihat bergerak bersama di kediaman H. Nasir untuk menyiapkan ratusan paket nasi kuning. Sebagian relawan membungkus makanan, sebagian lainnya mengatur distribusi, sementara tim lain langsung turun ke jalan membagikan nasi kuning kepada masyarakat yang telah memulai aktivitas sejak pagi.
Mereka menyasar pekerja harian, pengemudi ojek online, petugas kebersihan, pedagang kecil, hingga warga yang melintas di sejumlah titik di Samarinda. Tidak hanya itu, sebagian paket nasi kuning juga rutin diarahkan kepada para santri tahfiz Al-Qur’an di kawasan Kahoi. Sedikitnya sekitar 100 santri menerima nasi kuning setiap pekan.
Bagi H. Nasir, konsistensi menjalankan kegiatan setiap Jumat menjadi inti utama dari gerakan sosial tersebut. Ia menilai kepedulian sosial harus dibangun melalui tindakan nyata yang dilakukan terus-menerus, bukan hanya kegiatan sesaat.
“Yang ingin kita bangun bukan hanya berbagi nasi kuning, tetapi rasa kebersamaan. Ketika semua elemen mau bergerak bersama, di situlah solidaritas tumbuh,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan rutin seperti Jumat Berkah juga menjadi cara sederhana untuk menjaga hubungan antarmasyarakat di tengah kehidupan kota yang semakin sibuk dan individualistis.
Di balik rutinitas itu, tersimpan keyakinan yang terus dipegangnya dalam menjalankan kegiatan sosial.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Karena itu, menjadi pribadi yang bermanfaat adalah karakter yang harus dimiliki seorang Muslim,” kata H. Nasir.
Ia menegaskan bahwa memberi bukan soal besar kecilnya bantuan yang diberikan, tetapi tentang menjaga konsistensi untuk terus hadir membantu sesama.
“Apa yang kita berikan, insyaAllah akan kembali menjadi kebaikan untuk diri kita sendiri,” tambahnya.
Suasana kebersamaan tidak berhenti setelah pembagian makanan selesai. Usai subuh dan berbagi, sebagian anggota komunitas melanjutkan kebersamaan dengan berkumpul di Warung Pangkep Sop Saudara di Jalan Teuku Umar untuk sarapan bersama.
Di tempat sederhana itu, obrolan hangat dan suasana kekeluargaan menjadi bagian dari cara menjaga kekompakan komunitas. Bagi mereka, sarapan bersama bukan sekadar rutinitas, tetapi ruang mempererat hubungan dan memperkuat solidaritas antaranggota.
Di tengah dinamika Kota Samarinda yang terus bergerak cepat, program Jumat Berkah perlahan menjadi penanda bahwa masih ada ruang-ruang sederhana yang diisi dengan kepedulian sosial dan semangat berbagi.
Dan setiap Jumat pagi, cerita itu kembali terulang: tentang nasi kuning, tentang subuh, dan tentang orang-orang yang memilih untuk tetap memberi di tengah kesibukan kota. (rif/kaltimnews.co)