Skip to content

Irwan Fecho Menepi dari Bursa Pencalonan Ketua KKSS Kaltim

Dipublikasikan: 21 May 2026, 14:16
Irwan Fecho Menepi dari Bursa Pencalonan Ketua KKSS Kaltim

KALTIMNEWS.CO – Musyawarah Wilayah IX Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kalimantan Timur belum dimulai. Tetapi suhu politiknya sudah terasa sejak jauh hari. Percakapan tentang kandidat ketua bergerak dari warung kopi hingga grup-grup WhatsApp warga KKSS di berbagai daerah.

Nama-nama mulai dipetakan. Dukungan dihitung. Loyalitas diuji.

Di tengah dinamika itu, nama Irwan Fecho sempat dianggap akan menjadi salah satu poros penting dalam perebutan Ketua BPW KKSS Kaltim. Ia disebut memiliki jaringan kuat, kedekatan dengan banyak tokoh muda KKSS, dan komunikasi yang cukup luas di sejumlah Badan Pengurus Daerah (BPD).

Tetapi ketika banyak orang memperkirakan ia akan masuk lebih jauh ke arena kontestasi, Irwan justru memilih keluar.

Keputusan itu diumumkan oleh Akbar Jaya salah satu tim Irwan Fecho, Rabu, 21 Mei 2026. Dalam keterangannya, Akbar menyebut Irwan memutuskan tidak maju demi menjaga persatuan organisasi.

“Bang Irwan tidak ingin kontestasi ini justru membuat hubungan kekeluargaan di KKSS menjadi renggang,” kata Akbar.

Pernyataan itu memperlihatkan satu hal yang selama ini menjadi denyut utama KKSS: organisasi ini dibangun bukan hanya oleh struktur, melainkan oleh rasa persaudaraan.

Di tubuh KKSS, senioritas bukan sekadar posisi simbolik. Ia adalah bagian dari kultur sosial yang dijaga sejak lama. Cara berbicara, sikap terhadap tokoh-tokoh senior, hingga pola penyelesaian konflik selalu diikat oleh semangat kekeluargaan.

Karena itu, ketika kontestasi mulai memperlihatkan gejala polarisasi, sebagian tokoh memilih berhati-hati.

Menurut Akbar, Irwan sejak awal sebenarnya datang membawa gagasan perubahan organisasi. Ia membangun komunikasi dengan berbagai BPD di 10 kabupaten dan kota di Kalimantan Timur. Sejumlah konsep pembaruan disebut mulai disusun untuk memperkuat peran KKSS ke depan.

Namun perjalanan politik organisasi tidak selalu bergerak sesuai rencana.

Di lapangan, dinamika mulai berkembang lebih kompleks. Dukungan terfragmentasi. Tarik-menarik kepentingan mulai terasa. Situasi itu membuat Irwan mengambil keputusan yang oleh pendukungnya disebut sebagai langkah menjaga marwah organisasi.

“Beliau sangat menghargai senioritas di KKSS. Beliau tidak ingin bertarung kalau akhirnya hanya melahirkan perpecahan,” ujar Akbar.

Kalimat itu terasa penting di tengah kecenderungan banyak organisasi yang kerap menjadikan kontestasi sebagai ruang saling berhadapan. Dalam banyak kasus, konflik pemilihan justru meninggalkan residu panjang setelah forum selesai.

Irwan tampaknya tidak ingin situasi seperti itu terjadi di KKSS Kaltim.

Menurut Akbar, jika pola kontestasi bergerak ke arah yang berpotensi memecah hubungan internal, maka mundur dianggap menjadi pilihan paling rasional.

“Kalau pola kontestasinya seperti ini, Bang Irwan memilih mundur,” katanya.

Langkah tersebut memunculkan beragam tafsir di kalangan warga KKSS. Sebagian menilai keputusan itu sebagai bentuk kedewasaan politik. Sebagian lain melihatnya sebagai sinyal bahwa tensi Muswil kali ini memang lebih serius dibanding perkiraan awal.

Tetapi di luar semua spekulasi itu, keputusan Irwan menyisakan satu refleksi: dalam organisasi berbasis kekeluargaan, kemenangan tidak selalu diukur dari berhasil atau tidaknya menduduki jabatan.

Kadang, menjaga hubungan agar tetap utuh justru dianggap lebih penting daripada memenangkan pertarungan.

Muswil IX KKSS Kaltim sendiri masih akan berjalan. Nama-nama lain tetap melakukan konsolidasi. Pertemuan-pertemuan politik terus berlangsung. Dukungan terus bergerak.

Namun mundurnya Irwan Fecho menjadi penanda bahwa di balik hiruk-pikuk perebutan posisi, ada kegelisahan yang diam-diam sedang tumbuh: apakah persaudaraan di dalam KKSS mampu tetap terjaga setelah seluruh kontestasi ini selesai?  (rif/kaltimnews.co)