KALTIMNEWS.CO, Samarinda – Sepuluh partai pemenang di pemilu 2019 kemarin kini duduk bertengger didalam Dewan Samarinda. Mereka adalah PDI Perjuangan, Gerindra, Golkar, PKS, Demokrat, PAN, Nasdem, PKB, PPP, dan Hanura.
Tiga partai diantaranya hanya seperti PKB mendapat tiga kursi, PPP dua kursi, dan Hanura satu kursi. Yang memaksa harus membuat kualisi partai demi mendapatkan satu fraksi, dengan tujuan tentunya yakni mengakomodasi pandangan politik ketiga partai tidak bisa membuat fraksi secara mandiri di gedung parlemen Basuki Rahmat.
Kepada media ini Anggota DPRD Samarinda dua periode, Laila Fatihah, dari partai PPP mengaku jika selama ini dirinya telah menjalin beberapa partai salah satunya yakni dengan PKB.
“Kami (PKB dan PPP) kan sama-sama tidak utuh. Jadi berkomunikasi ke sesama saja,” candanya.
Komunikasi politik yang diambil PPP itu tak hanya terfokus pada partai itu. Apalagi, pemenuhan kuota PPP kurang melengkapi syarat minimal empat anggota dewan agar membentuk sebuah fraksi.
Semula, terdapat empat perwakilan PPP pada 2014 – 2019 di DPRD Samarinda. Tetapi, pada 2019 – 2024 partainya hanya mendapatkan dua kursi.
“Makanya perlu evaluasi menyiapkan kader untuk bertarung di pemilu selanjutnya,” ungkap Laila sapaan akrabnya.
Terpisah, Ketua DPC Hanura Samarinda Ahmad Sopiyan mengaku, komunikasi ke beberapa partai juga sudah berjalan selepas penetapan calon terpilih oleh KPU Samarinda.
“Otomatis pasti gabung karena hanya satu kursi. Hanya saya sendiri,” katanya.
Sopiyan mengaku, sudah menjalin komunikasi ke tiga partai, PDI Perjuangan, Nasdem, serta koalisi PKB dan PPP.
Tapi, ke mana nantinya koalisinya akan melabuhkan jangkarnya. Hal ini hanya tinggal menunggu arahan dari pengurus Hanura Kaltim. “Pekan depan hasilnya,” pungkasnya. (*/Adv)