KALTIMNEWS.CO – Di tengah riuhnya dinamika jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Samarinda, arah dukungan perlahan mulai menemukan jalannya. Tidak lagi samar atau tersembunyi, melainkan bergerak pasti dari satu kecamatan ke kecamatan lain.
Di Sungai Pinang, arah itu menjadi semakin jelas ketika Siti Fatimah mengambil sikap.
Bagi Siti Fatimah, keputusan politik bukan sekadar pilihan sesaat. Ia tumbuh dari proses Panjang mendengar, membaca, dan merasakan denyut nadi kader di bawah.
Sebagai Ketua PTK Golkar Sungai Pinang, ia berada di titik yang cukup dekat untuk memahami harapan itu: keinginan akan pemimpin yang tidak hanya hadir secara simbolik, tetapi benar-benar bekerja.
Nama Andi Satya Adi Saputra pun muncul dalam percakapan-percakapan internal. Bukan sekali dua kali, tetapi berulang hingga akhirnya menjadi kesimpulan bersama.
“Dari komunikasi yang kami bangun, ada harapan yang sama. Kader ingin figur yang bisa menggerakkan partai, bukan sekadar memimpin di atas,” ujar Siti Fatimah.
Ia melihat Andi Satya sebagai representasi dari kebutuhan itu. Sosok muda, energik, dan mampu menjangkau berbagai lapisan mulai dari struktur hingga akar rumput.
Namun bukan hanya soal usia atau energi. Ada hal lain yang membuatnya dinilai berbeda: kemampuan merangkul.
“Yang dibutuhkan sekarang itu pemersatu. Dan itu mulai terlihat ada pada beliau,” katanya.
Di sisi lain, rekam jejak juga menjadi bagian penting dalam pertimbangannya. Dalam dunia politik, kata Siti Fatimah, legitimasi tidak datang begitu saja ia harus dibuktikan.
Dan bagi Andi Satya, pembuktian itu hadir melalui capaian elektoral dan keterlibatannya di ruang publik.
Dinamika yang Menguat:
Dukungan dari Sungai Pinang bukan berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari gelombang yang lebih besar.
Hingga kini, setidaknya lima dari sepuluh Pimpinan Tingkat Kecamatan (PTK) di Samarinda disebut telah menunjukkan arah dukungan yang sama.
Angka itu mungkin terlihat sederhana. Tapi dalam konteks Musda, ia bisa menjadi penentu arah.
Musda yang akan digelar pada 18 April 2026 di Hotel Fugo Samarinda bukan sekadar forum pemilihan. Ia adalah titik temu dari berbagai kepentingan, harapan, dan strategi.
Dan ketika dukungan mulai mengerucut, kemungkinan-kemungkinan baru pun terbuka termasuk skenario aklamasi yang mulai diperbincangkan secara terbuka.
Bagi sebagian orang, Musda adalah soal siapa menang dan siapa kalah.
Namun di Sungai Pinang, cerita itu terasa berbeda. Ia lebih tentang bagaimana arah ditentukan pelan, tapi pasti.
Dan ketika satu per satu dukungan mulai menemukan titik temu, mungkin pertanyaannya bukan lagi siapa yang akan memimpin. Melainkan, seberapa jauh arah itu sudah terbentuk sebelum forum dimulai. (rif/kaltimnews.co)