KALTIMNEWS.CO — Rencana pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Samarinda yang semula dijadwalkan pada Sabtu (18/4/2026) di Fugo Hotel Samarinda resmi ditunda. Keputusan ini diambil di tengah dinamika sosial politik yang berkembang di Kalimantan Timur dalam beberapa hari terakhir.
Ketua Fraksi Partai Golkar Samarinda, Andi Saharuddin, membenarkan penjadwalan ulang tersebut. Ia menyebut, langkah ini merupakan bagian dari pertimbangan strategis partai untuk menjaga stabilitas dan memastikan momentum yang lebih tepat.
“Pelaksanaan Musda kami tunda. Ada sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan, salah satunya karena momentum yang dinilai belum ideal,” ujarnya.
Menjaga Sensitivitas Publik
Penundaan ini tidak lepas dari situasi yang menghangat menjelang rencana aksi pada 21 April. Dalam konteks itu, Partai Golkar memilih tidak memaksakan agenda internal agar tidak memunculkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.
Menurut Andi, sikap tersebut mencerminkan upaya partai untuk tetap selaras dengan dinamika publik. “Kami ingin menjaga agar tidak muncul kesan bahwa partai abai terhadap kondisi yang berkembang,” katanya.
Langkah ini sekaligus dipandang sebagai upaya meredam potensi ketegangan, sembari memastikan seluruh proses organisasi berjalan dalam suasana yang lebih kondusif.
Kesiapan Internal dan Agenda Pembukaan
Selain faktor eksternal, kesiapan internal juga menjadi alasan penundaan. Kehadiran jajaran pengurus tingkat provinsi, termasuk Ketua DPD Partai Golkar Kalimantan Timur, Rudi Mas'ud, turut menjadi pertimbangan penting.
Rudi Mas’ud sebelumnya direncanakan membuka secara resmi pelaksanaan Musda tersebut. Namun dengan adanya penjadwalan ulang, agenda pembukaan itu pun ikut bergeser menyesuaikan waktu baru yang akan ditetapkan.
Hingga kini, belum ada jadwal baru yang diumumkan. Namun, penundaan ini dinilai sebagai sinyal bahwa partai tengah mengukur langkah secara lebih hati-hati di tengah dinamika politik daerah.
“Yang terpenting, proses berjalan baik dan menghasilkan keputusan yang kuat. Karena itu, menunggu waktu yang tepat menjadi pilihan,” kata Andi.
Di tengah menghangatnya situasi, keputusan ini sekaligus menegaskan kecenderungan partai untuk menempatkan stabilitas dan persepsi publik sebagai bagian dari pertimbangan utama dalam setiap agenda politiknya. (rif/kaltimnews.co)