Skip to content

Limbah Makanan Disulap Jadi Pakan, PHM Bangun Ekonomi Sirkular Warga

Dipublikasikan: 28 Jul 2026, 18:24
Limbah Makanan Disulap Jadi Pakan, PHM Bangun Ekonomi Sirkular Warga

KALTIMNEWS.CO – Siapa sangka limbah makanan yang sebelumnya berakhir di tempat pengelolaan sampah kini justru menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat pesisir Kalimantan Timur. Melalui inovasi sederhana namun berdampak besar, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil mengubah sisa makanan kafetaria menjadi pakan ternak bebek, sekaligus memperkuat ekonomi sirkular di Desa Muara Pantuan, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Program tersebut berawal dari evaluasi pengelolaan limbah organik yang dilakukan tim Health, Safety, Security and Environment (HSSE) PHM di South Processing Unit (SPU). Di saat yang hampir bersamaan, warga Pulau Nubi, Desa Muara Pantuan, mengajukan bantuan pakan untuk mengembangkan usaha peternakan bebek.

Melihat adanya kebutuhan masyarakat sekaligus peluang untuk mengurangi timbunan limbah organik, PHM kemudian mengintegrasikan kedua kepentingan tersebut dalam satu program pemberdayaan yang berkelanjutan.

Sejak September 2025, budidaya dimulai dengan 300 ekor bibit bebek. Setelah memasuki masa produktif sekitar lima bulan kemudian, populasi ternak kembali ditambah sebanyak 300 ekor untuk memenuhi peningkatan kebutuhan produksi.

Meningkatnya jumlah ternak membuat kebutuhan pakan ikut melonjak. Sejak April 2026, seluruh kebutuhan pakan bebek dipenuhi melalui pemanfaatan limbah organik kafetaria PHM yang telah dikelola secara aman dan layak.

Langkah tersebut tidak hanya mengurangi volume sampah organik perusahaan, tetapi juga memangkas kebutuhan pengangkutan limbah menuju fasilitas pengelolaan yang berjarak sekitar 30 kilometer dari lokasi operasional.

Kepala Lapangan South Processing Unit (SPU) PHM, Teddy Indrawan, mengatakan program tersebut memberikan manfaat ganda, baik dari sisi efisiensi operasional maupun keselamatan kerja.

"Program ini memberikan manfaat lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah," ujar Teddy dalam keterangan tertulis, Rabu (29/7/2026).

Dari sisi masyarakat, dampaknya mulai terlihat. Sejak Februari 2026, peternakan mampu menghasilkan sekitar 60 hingga 90 butir telur bebek setiap hari. Bahkan pada periode tertentu, produksi harian mampu melampaui 100 butir.

Peningkatan produksi tersebut menjadi modal bagi para peternak untuk terus mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.

General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menegaskan bahwa program ini merupakan implementasi nyata prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) yang mengedepankan penciptaan nilai bersama antara perusahaan dan masyarakat.

Menurutnya, pengelolaan lingkungan tidak lagi hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga harus mampu menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.

"Sejalan dengan semangat ESG, kami akan terus mendorong program-program yang menciptakan nilai bersama atau creating shared value bagi seluruh pemangku kepentingan," katanya saat melakukan Management Walk Through ke lokasi peternakan bebek di Desa Muara Pantuan.

Sementara itu, Head of Communication Relations & CID PHM, Achmad Krisna Hadiyanto, menyebut program tersebut telah berkembang jauh melampaui tujuan awalnya.

Semula hanya dirancang untuk mengurangi limbah organik perusahaan, kini program tersebut telah menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui penerapan konsep ekonomi sirkular.

"Ke depan, kami akan terus mendorong program kolaboratif yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan," pungkas Achmad Krisna Hadiyanto.

Melalui inovasi ini, PHM menunjukkan bahwa pengelolaan limbah di sektor hulu migas tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha baru yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar wilayah operasional. (rif/kaltimnews.co)