Skip to content

Rupang Buddha Nusantara Dicor Samarinda

Dipublikasikan: 01 Feb 2026, 12:58
Rupang Buddha Nusantara Dicor Samarinda

KALTIMNEWS.CO - Saṅgha Theravāda Indonesia (STI) tahun ini memasuki usia ke-50. Berdasarkan keputusan Rapat Pimpinan II Tahun 2025, dibentuk Panitia Nasional Tahun Kencana Setengah Abad Saṅgha Theravāda Indonesia dengan mengusung tema “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri.” Momentum bersejarah ini dimaknai melalui rangkaian kegiatan spiritual yang digelar di berbagai wilayah Indonesia.

Salah satu kegiatan utama dalam peringatan tersebut adalah pengecoran Rupang Buddha Nusantara, sebuah inisiatif yang dirancang sebagai simbol persatuan umat Buddha di Tanah Air. Program ini dilaksanakan secara bergilir di sejumlah pulau besar sebagai representasi Nusantara.

Pembuatan Rupang Buddha Nusantara terinspirasi dari ditemukannya Rupang Buddha di reruntuhan kompleks Candi Sewu pada Mei 2025. Temuan bersejarah tersebut kemudian dijadikan prototipe dengan menampilkan mudrā Bhūmisparsa, yang bermakna “Bumi sebagai saksi atas kumpulan kebajikan.” Makna ini merefleksikan nilai kebajikan, keteguhan, serta kesadaran moral yang menjadi fondasi kehidupan umat Buddha.

Rupang Buddha Nusantara dikerjakan oleh seniman Sugito Sutarmin dari Amertha Art Studio. Proses pengecoran dilaksanakan secara bergilir di Pulau Sumatra di Kota Medan, Pulau Kalimantan di Kota Samarinda, Pulau Bali di Denpasar, Pulau Sulawesi di Palu, Pulau Jawa di Surabaya, dan akan ditutup di Daerah Khusus Jakarta.

Di Kalimantan Timur, pengecoran Rupang Buddha Nusantara kedua dilaksanakan pada 1 Februari 2026 di Vihāra Muladharma, Samarinda. Prosesi berlangsung khidmat dan menjadi simbol persatuan umat Buddha lintas daerah dalam peringatan setengah abad Saṅgha Theravāda Indonesia.

Kepala Saṅgha Theravāda Indonesia, Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera, menyampaikan bahwa peringatan 50 tahun STI merupakan momentum refleksi atas perjalanan panjang pembinaan spiritual umat Buddha di Indonesia.

“Setengah abad ini adalah momentum untuk meneguhkan kembali Jalan Mulia, sekaligus memperkuat peran Saṅgha dalam bersumbangsih bagi bangsa dan negara,” ujar Bhante.

Menurut Bhante, pengecoran Rupang Buddha Nusantara dipilih sebagai simbol utama Tahun Kencana karena memiliki makna spiritual dan kebangsaan yang kuat.

“Rupang Buddha Nusantara ini merupakan simbol peringatan setengah abad Saṅgha Theravāda Indonesia yang bernilai spiritual, monumental, dan historikal,” katanya.

Bhante juga menjelaskan makna mudrā Bhūmisparsa yang digunakan dalam Rupang Buddha Nusantara, yang melambangkan bumi sebagai saksi atas kebajikan.

“Makna Bhūmisparsa mengajarkan bahwa setiap kebajikan akan menjadi kekuatan moral yang menopang kehidupan, baik secara pribadi maupun sebagai bangsa,” jelasnya.

Seluruh logam yang digunakan dalam proses pengecoran Rupang Buddha Nusantara berasal dari donasi umat Buddha, mencerminkan semangat kebersamaan dan partisipasi kolektif. Prosesi pengecoran turut diiringi tekad dan niat luhur umat, serta lantunan Paritta Suci yang dipimpin oleh sekitar 50 Bhikkhu dari Saṅgha Theravāda Indonesia.

Terkait pelaksanaan pengecoran di berbagai wilayah Indonesia, Bhante menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan pesan persatuan dan kebhinekaan.

“Pengecoran Rupang Buddha di berbagai wilayah Nusantara adalah pesan bahwa umat Buddha di Indonesia bersatu dalam keberagaman,” ungkapnya.

Menutup pernyataannya, Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera menyampaikan harapan agar nilai-nilai kebajikan yang dihidupkan dalam peringatan setengah abad ini dapat terus diwariskan kepada generasi muda.

“Kami berharap generasi muda dapat melanjutkan semangat kebajikan, menjaga persatuan, dan berkontribusi positif bagi Indonesia,” pungkasnya.

Bagi umat Buddha, Rupang Buddha bukan sekadar karya seni religius, melainkan sarana untuk menumbuhkan keyakinan yang berlandaskan pengertian benar, kehidupan bermoral, kemurahan hati, serta kebijaksanaan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. (*)