Skip to content

Demonstrasi Tolak Semen Kembali Ricuh, 7 Personel Kepolisian, dan 3 orang Satpol PP Luka Serius

Ajakan Dialog Wagub di abaikan demonstran

Dipublikasikan: 08 Apr 2019, 08:04
Demonstrasi Tolak Semen Kembali Ricuh, 7 Personel Kepolisian, dan 3 orang Satpol PP Luka Serius
Wakil Gubernur Kaltim, Hadi Mulyadi, Saat menemui Demonstran di depan Kantor Gubernur Kaltim ( Foto : Arief Kaseng/ Kaltimnews.co)

KALTIMNEWS.CO, Samarinda – Sejumlah Mahasiswa yang tergabung dengan nama Aliansi Masyarakat Peduli Karst Kalimantan Timur (AMPK) kembali mendatangi kantor Gubernur Kaltim, Senin (8/4/2019) siang.

Massa yang mulai bergerak dari taman samarenda tersebut tiba di Depan kantor Gubernur Kaltim Jl Gajahmada sekira pukul 12.00 Wita. Sebelum memulai orasi para pengujuk rasa ini memulai kegitatannya dengan melakukan sholat berjamaah di tengah jalan depan kantor Gubernur tersebut

Sholat berjamaah ditengah jalan raya.

Sejumlah Demonstran mengelar aksi sholat dzuhur berjamaah sebelum mengelar aksi demonstrasi didepan kantor gubernur kaltim Senin (8/4/2019) siang.(Foto: Arief Kaseng/ Kaltimnews.co)

Seperti tuntutan sebelumnya, AMPK kembali menyerukan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) untuk tidak membangun pabrik semen wilayah Karst Sangkulirang mangkuliat.

“Berpuluh-puluh tahun rakyat Kaltim telah melihat secara langsung penghancuran ruang hidup rakyat, dimmulai dari pemusnahan kayu yang membabat habis hutan, minyak dan gas, Sawit, yang semunya mengeruk lahan produktif warga, pertambangan yang memberikan kerusakan lingkungan luar biasa hingga menelan korban 32 jiwa,” sebut narator demonstaran.

Selain menyampaikan tuntutannya tersebut para pengujuk rasa ini juga juga menuntut pertemuan langsung dengan sang kepala daerah tingkat Pemprov tersebut. Namaun tak lama ddengan orasinya Wakil Gubernur Kaltim turun dari runangannya menenui massa yang tengah menyampaikan orasinya.

Pertemuan Sang wakil Gubernur kemundian diwarnai dengan aksi tegang lantaran Hadi mulayadi tidak diberikan ruang untuk menaggapi segala saggahan yang dilemparkan oleh Demonstran.

“Bagai mana saya bisa menjelaskan jika kalian sendiri tidak meberikan kesempatan kepada saya untuk berbicara, kalian merasa tidak dihiraukan oleh pemerintah, namun saya sebagai pemerintah datang ketengah kalian untuk mengajak berdialog,” kata hadi ditengah kerumunan demonstran.

Bukan hanya itu Wakil gunernur Hadi, juga mengundang perwakilan Demonstran untuk masuk kedalam Gedung pemprov untuk berkomunikasi terkait persoalan yang ingin disampaikan oleh demonstran.

“Saya memanggil perwakilan dari pengujuk rasa untuk masuk keruangan saya kita bahas persoalan ini, dengan data yang kongkrit,” sebut Hadi.

Namun sayangnya undangan orang nomor 2 dikaltim ini tidak ditanggapi oleh demonstran, para demonstran malaha memilih untuk tinggal diam didepan kantor Gubernur tersebut.

 

Mulai Ricuh.

Kapolresta-Samarinda-di-tengah-Demonstran-kaltimnews.

Kapolresta Samarinda Kombes Pol Vendra Riviyanto saat berusaha membubarkan aksi lemparan batu oleh demonstran di depan Kantor Gubernur Kaltim, Senin (8/4/2019) siang.(Foto: Arief Kaseng/ Kaltimnews.co)

Selang beberapa saat setelah Wakil Gubernur Hadi Mulyadi, meninggalkan demonstran tepatnya pukul 14.57 Wita sejumlah batu kemudian mulai menghujani pelataran Gedung Pemrov Kaltim tersebut. Kericuhan pun tidak terelakkan. Dari data yang dihimpun kaltimnews.co dilapangan, kericuhan ini bermula saat salah seorang orator memprovokasi peserta aksi yang berujung tindakan anarkis dari demonstran yang berujung bentrok dengan pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Setidaknya terdapat 5 orang dari mahasiswa yang kemudian dilarikan ke rumah sakit, sementara Kepala Satpol PP Kaltim, Gede Yusa, dan tiga anggotanya menderita luka lantaran sabetan batu massa demonstran. Serta 7 orang personel polresta samarinda mengalami luka serius dan harus di larikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perwatan medis.

Sekira pukul 15.27 Wita Kapolresta, Kombes Pol Vendra Riviyanto beserta Kaden B Brimob Polda Kaltim berhasil meredam Aksi pelemparan batu kearah petugas yang berada berada dikantor Gubernur tersebut.

Kepada kaltimnews.co, Vendra mengaku menyesalkan aksi anarkis tersebut, mengingat pemerintah Provinsi Kaltim telah terbuka menerima mereka untuk berdialog langsung didalam kantor Gubernur Kaltim tersebut.

“Sebenarnya Bentrokan tersebut tidak perlu terjadi, mengingat Wakil Gubernur Hadi Mulyadi telah turn menemui pada Demonstran, bahkan mengajak mereka untuk berdialgo secara demokratis terkait persoalan yang ingin mereka sampaikan, “Ujar kapolresta Samarinda Kombes Pol Vendra Riviyanto melalui Kasubag Humas Polresta Samarinda Ipda Danovan.

Senter Isu, bentrokan tersebut terpicu dengan hilangnya Microfon milik demonstran yang digunakan saat orasi. Demonstran mencurigai Microfon milik mereka diamankan oleh Satpol PP.

“Demonstran mencurigai perlengkapan AMPK berupa Microfon diamankn oleh petugas Satpol PP, namun setelah dilakukan pengecekan yang dikawal oleh Kapolresta Samarinda berserta Kaden B Brimob ternyata dugaan tersebut tidak bisa dibuktikan,”Sebut Danovan (*)