KALTIMNEWS.CO — Fajar baru saja menyingsing di Islamic Center Samarinda. Di antara langkah-langkah jamaah yang keluar dari masjid usai sholat subuh, ada pemandangan yang tak lagi asing setiap hari Jumat.
Kotak-kotak nasi kuning dibagikan. Hangat. Sederhana. Tapi konsisten.
Sejak 2018, kegiatan itu tak pernah benar-benar berhenti.
Sedikitnya 500 kotak nasi kuning disiapkan setiap pekan oleh komunitas GSSB KKSS melalui program “Jumat Berkah” sebuah gerakan kecil yang tumbuh menjadi kebiasaan sosial di Samarinda.
Program ini digagas oleh H. Muhammad Nasir, atau yang akrab disapa H. Nasir. Baginya, kegiatan ini bukan sekadar berbagi makanan, tetapi membangun ritme kebaikan yang dimulai dari subuh.
“Ini sederhana, tapi kami ingin istiqamah. Dari subuh berjamaah, lalu berbagi. Harapannya bisa jadi kebiasaan baik yang terus hidup,” ujarnya.

Dari kawasan Islamic Center, distribusi kemudian menyebar. Sekitar 100 hingga 150 kotak untuk jamaah masjid. Sebagian lainnya dibawa ke Jalan Ulin untuk warga sekitar.
Ada juga yang diarahkan ke para santri tahfiz Al-Qur’an di kawasan Kahoi, sekitar 100 orang setiap pekan. Sisanya, dibagikan kepada masyarakat umum yang membutuhkan.
Di balik rutinitas itu, tersimpan keyakinan yang sederhana namun kuat.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Karena itu, menjadi pribadi yang bermanfaat adalah karakter yang harus dimiliki seorang Muslim,” kata H. Nasir.
Baginya, memberi bukan soal besar atau kecil. Tapi tentang konsistensi.
“Apa yang kita berikan, insyaAllah akan kembali menjadi kebaikan untuk diri kita sendiri,” tambahnya.
Tak berhenti di pembagian makanan, kebersamaan itu berlanjut. Usai subuh dan berbagi, sebagian anggota komunitas berkumpul di warung sederhana Warung Pangkep Sop Saudara di Jalan Teuku Umar.
Di sana, sarapan bukan hanya soal mengisi perut. Tapi juga menjaga ikatan.
Di tengah dinamika kota yang terus bergerak, kegiatan ini menjadi penanda bahwa masih ada ruang-ruang sunyi yang diisi oleh hal-hal sederhana: bangun lebih pagi, berkumpul, lalu berbagi.
Dan sejak 2018, Jumat di Samarinda punya cerita kecil yang terus berulang tentang nasi kuning, tentang subuh, dan tentang orang-orang yang memilih untuk tetap memberi. (rif/kaltimnews.co)