KALTIMNEWS.CO, Lantunan “Pamit” milik Broery Marantika seakan menyapa kami saat memasuki ruangan peribadi berukuran 4x5 milik Fuad Fakhruddin, Anggota DPRD Kota Samarinda yang beralamat di Komplleks Darul Fata Jl Kemuning, Loa Bakung, Samarinda.
“Silahkan masuk, selamat datang apa kabar,” begitulah sapaan pertama yang kami dapatkan dari legislator Basuki Rahmat ini, saat kali pertama kami masuk dalam ruangan yang bernuansa ala Timur Tengah tersebut.
Diatas sofa lantai berbentuk “L” ini, Fuad, sapaan akrabnya mengaku sejumlah suka duka selama menjabat sebagai wakil rakyat Samarinda.
“Salama dua periode saya menjabat sebagai Anggota Dewan, rumah ini menjadi rumah aspirasi yang sengaja saya buat, agar dapat lebih banyak berinteraksi dengan warga sekitar daerah pemilihan saya,” ucapnya.
Menurutnya, Perjalanan selama kurun waktu 10 tahun yang dijalaninya kini bukanlah mudah seperti yang dibayangkan kebanyakan orang.
“Mungkin orang berpikir menjabat sebagai anggota Dewan itu nyaman dan enak padahal tidak sedemikian, kalau berbicara suka dan duka lebih banyak dukanya ketimbang sukanya,” ujarnya.
Pria kelahiran Loa Bakung, 12 Juli 1980 silam ini pun menuturkan awal karirnya di dunia politik. “Sebelumnya saya tidak mengenal sama sekali apa itu politik, mengingat profesi saya yang kala itu yang berlatar belakang anak pesantren yang kemudian menjadi tenaga pengajar di tempat saya menimba ilmu, ditambah lagi oleh abah (Panggilan ayah) saya yang tidak setuju dengan dunia perpolitikan kala itu,” ucapnya.
Namun waktu ternyata berbicara lain, Fuad kemudian merasa terpanggil untuk ikut memperjuangan nasib warga dan wilayah tempat lahirnya yang kala itu tidak terlalu mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat.
Tepatnya di 2011 saat dirinya sedang giat-giatnya membangun usaha Sembako dan Depot Air mimum isi ulang miliknya, sejumlah warga mendatanginya dengan maksud mengajukannya sebagai salah satu calon wakil rakyat dari dapil tersebut.
Mendapat tawaran, Fuad mengaku jika dirinya tidak langsung merespon. “Saya belum merespon aspirasi warga kala itu, lantaran saya pikir masih banyak yang lain yang lebih baik dari saya, ditambah lagi saya masih buta akan politik kala itu,” imbuhnya.
Namun kian hari desakan warga tersebut kian tak terbendung, hingga Henny Kasmawati sang istri ikut memberikan lampu hijau untuk ikut memperjuangkan aspirasi warga.
“Memperjuangakan kepentingan orang banyak merupakan ladang ibadah yang wajib kita lakukan, toh tujuan hidup kita kan supaya kita bermanfaat bagi orang lain,” itu yang disampaikan istri saya kala itu. (*) (Bersambung)