Skip to content

Siri’ Na Pace di Tengah Arus Pragmatisme

Dipublikasikan: 14 Feb 2026, 13:27
Siri’ Na Pace di Tengah Arus Pragmatisme

KALTIMNEWS.CO – Diskusi publik 50 Tahun KKSS yang digelar Himpunan Masyarakat Parepare (HMP) di Queen Merry, Hotel Aston Samarinda, Sabtu (14/2/2025), berubah menjadi ruang refleksi yang tajam tentang arah kepemimpinan dan masa depan identitas Bugis-Makassar di tanah rantau.

Tema refleksi kepemimpinan organisasi dan dinamika sosial yang dibawakan Prof Mas Jaya bukan sekadar paparan akademik. Ia memantik perenungan mendalam tentang nilai, warisan, dan krisis identitas yang perlahan menggerus generasi muda Bugis di perantauan.

Andi Fathul Khair, perwakilan Kerukunan Keluarga Bone Kalimantan Timur, secara lugas menyoroti realitas yang tak bisa diabaikan: adat dan bahasa Bugis kian jarang terdengar di dalam keluarga.

“Tema Muswil HMP ini sangat menarik, ‘Merawat Warisan, Merajut Masa Depan’. Tapi pertanyaannya, apa yang benar-benar kita wariskan? Dalam keluarga Bugis perantauan, hampir tidak ada lagi yang berbahasa Bugis kepada anak cucunya. Kalau pun ada, hanya sedikit,” tegasnya.

Ia menyebut, kebanggaan sebagai orang Bugis tidak boleh luntur. Terlebih, suku Bugis memiliki aksara Lontara yang diakui dunia sebagai warisan peradaban.

“Kita punya aksara Lontara yang diakui dunia. Jangan sampai kita justru malu menularkan budaya sendiri kepada anak cucu. Kebanggaan itu harus dimulai dari keluarga,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyinggung nilai luhur Siri’ Na Pace—falsafah harga diri dan solidaritas yang menjadi fondasi karakter Bugis. Menurutnya, prinsip itu kini kerap mengalami distorsi, terutama dalam praktik kepemimpinan.

“Dulu orang Bugis memegang teguh Siri’ Na Pace. Sekarang dalam mencari kepemimpinan, jangan sampai berubah menjadi ‘Dui Na Pace’,” sindirnya, merujuk pada kecenderungan pragmatisme yang menggerus nilai idealisme.

Harapannya, dialog yang digelar HMP Kaltim tidak berhenti sebagai seremoni organisasi, melainkan menjadi momentum kebangkitan nilai-nilai adat dan norma Bugis di tengah masyarakat perantauan.

Dialog ini menjadi bingkai penting dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) II HMP Kaltim. Forum tersebut diharapkan tak sekadar menjadi ajang pengambilan keputusan organisasi, tetapi juga ruang diskursus publik yang mencerahkan.

Empat tokoh mewakili suku-suku besar dalam KKSS hadir sebagai pembicara. Prof. Dr. H. Mas Jaya, M.Si (Mandar) mengupas refleksi kepemimpinan dan dinamika sosial. Dr. H. Andi Ade Lepu, M.Si (Bugis) membahas peran generasi muda dan regenerasi organisasi. Sem Karta, Sekretaris IKAT Kaltim (Toraja) menyoroti tata kelola dan konsolidasi organisasi. Sementara Prof. Dr. H. Bohari Yusuf, M.Si (Makassar) mengangkat pentingnya pembangunan sekretariat dan penguatan infrastruktur organisasi.

Ketua HMP Kaltim terpilih, Andi Saharuddin, menyampaikan apresiasi atas kehadiran para tokoh lintas etnis dan jajaran pengurus KKSS Kaltim.

“Ini kebanggaan bagi kami sebagai organisasi di bawah naungan KKSS. Kehadiran tokoh lintas etnis menunjukkan semangat persaudaraan yang kuat,” ucapnya.

Menurutnya, Muswil yang dibingkai dialog publik mencerminkan karakter HMP Kaltim yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan. Ia menegaskan filosofi bahwa persaudaraan tidak selalu harus terikat darah.

“Kami meyakini tidak harus sedarah untuk menjadi saudara. Itulah cerminan nilai Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakamase dalam kehidupan berorganisasi,” tuturnya.

Mengusung tema “Merawat Warisan, Merajut Masa Depan”, Muswil II HMP Kaltim menjadi panggung refleksi sekaligus pengingat: identitas budaya tak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus dihidupkan dalam keluarga, organisasi, dan ruang publik.