KALTIMNEWS.CO – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga menjadi persoalan kesehatan masyarakat. Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Harminsyah, menilai perlindungan warga dari paparan asap perlu menjadi perhatian serius, terutama bagi anak-anak, balita, dan lanjut usia.
Kewaspadaan itu mengemuka setelah Kementerian Kesehatan melaporkan akumulasi 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di sejumlah wilayah terdampak karhutla pada periode 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026.
Data tersebut menunjukkan 258.298 kasus dialami warga berusia di atas lima tahun. Sementara itu, 75.172 kasus lainnya terjadi pada anak berusia nol hingga lima tahun.
Angka tersebut memperlihatkan besarnya risiko kesehatan yang perlu diantisipasi ketika asap kebakaran menyebar dan kualitas udara memburuk.
Dalam draf tanggapannya, Harminsyah menekankan pentingnya langkah pencegahan yang mudah diterapkan masyarakat, sekaligus perhatian pemerintah terhadap warga yang paling rentan mengalami gangguan pernapasan.
“Keselamatan dan kesehatan warga harus menjadi perhatian utama. Masyarakat perlu mendapatkan informasi kualitas udara yang mudah diakses, sementara kelompok rentan harus memperoleh perlindungan dan layanan kesehatan yang memadai,” demikian draf pernyataan yang perlu dikonfirmasi kepada Harminsyah.
Risiko paparan asap semakin besar ketika konsentrasi partikel halus PM2.5 meningkat. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan memicu gangguan kesehatan.
Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Kesehatan pada 22 Oktober 2026 menunjukkan sejumlah daerah berada dalam kategori hitam atau berbahaya, dengan nilai PM2.5 di atas 300.
Paparan asap dapat menimbulkan iritasi mata, batuk, dan gangguan pernapasan. Kondisi tersebut juga berpotensi memperburuk penyakit paru-paru yang telah dialami seseorang.
Karena itu, warga di wilayah terdampak perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker, pembatasan masuknya asap ke dalam rumah, serta pemantauan informasi kualitas udara menjadi bagian dari langkah pencegahan.
Harminsyah juga perlu menyoroti pentingnya akses layanan kesehatan bagi warga yang mulai mengalami gejala. Batuk yang memburuk, sesak napas, atau gangguan pernapasan lain tidak seharusnya diabaikan, terlebih pada anak-anak dan lansia.
Kementerian Kesehatan menyatakan telah menyiagakan 1.691 puskesmas dan menyiapkan 360 rumah sakit rujukan untuk menangani dampak kesehatan akibat karhutla. Pemerintah juga menyiapkan 87 laboratorium kesehatan masyarakat dan 491 rumah oksigen di berbagai wilayah.
Kesiapan fasilitas tersebut perlu diikuti penyampaian informasi yang jelas mengenai lokasi layanan, prosedur mendapatkan pertolongan, serta kelompok masyarakat yang membutuhkan penanganan lebih cepat.
Bagi Samarinda, kewaspadaan terhadap kualitas udara penting dilakukan apabila asap karhutla berdampak pada wilayah kota. Pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan perlu memastikan warga mengetahui cara mengurangi paparan serta tempat memperoleh pertolongan saat gejala pernapasan muncul.
Upaya pencegahan, informasi kualitas udara, dan akses layanan kesehatan menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kesehatan selama karhutla berlangsung. (*/adv/rif/kaltimnews.co)