Skip to content

Dialog 50 Tahun KKSS Warnai Muswil HMP Kaltim

Dipublikasikan: 14 Feb 2026, 12:09
Dialog 50 Tahun KKSS Warnai Muswil HMP Kaltim

KALTIMNEWS.CO – Musyawarah Wilayah (Muswil) Himpunan Masyarakat Parepare (HMP) Kalimantan Timur tidak hanya menjadi forum pergantian kepengurusan. 

Dibuka resmi Ketua KKSS Kaltim, H. Alimuddin, Sabtu (14/2/2026) pagi di Queen Mary Ballroom, Hotel Aston Samarinda, agenda langsung dilanjutkan dengan Dialog Publik 50 Tahun KKSS yang menegaskan arah baru konsolidasi organisasi perantau Sulawesi Selatan di Bumi Etam.

Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa Muswil HMP bukan sekadar seremoni dan agenda administratif, melainkan juga ruang intelektual dan kebangsaan. Forum ini dirancang untuk memperkuat fondasi organisasi sekaligus menjawab tantangan zaman.

Dialog publik menghadirkan empat tokoh dari pilar utama Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kalimantan Timur yang mewakili suku-suku besar dalam KKSS.

Prof. Dr. H. Mas Jaya, M.Si (Suku Mandar) mengulas refleksi kepemimpinan organisasi dan dinamika sosial masyarakat perantauan. Ia menekankan pentingnya kepemimpinan kolektif yang adaptif terhadap perubahan sosial.

Disusul Dr. H. Andi Ade Lepu, M.Si (Suku Bugis), yang mengangkat urgensi regenerasi dan peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan organisasi agar tetap relevan dan progresif.

Sem Karta, Sekretaris IKAT Kaltim (Suku Toraja), membedah tata kelola dan konsolidasi organisasi sebagai kunci menjaga soliditas internal di tengah dinamika eksternal.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Bohari Yusuf, M.Si (Suku Makassar), menyoroti pentingnya pembangunan sekretariat permanen dan penguatan infrastruktur organisasi sebagai simbol kemandirian dan keberlanjutan KKSS di Kaltim.
Ketua HMP Kaltim terpilih, Andi Saharuddin, menyampaikan apresiasi atas kehadiran tokoh lintas etnis dan jajaran pengurus KKSS Kaltim dalam forum tersebut.

“Ini kebanggaan bagi kami sebagai organisasi di bawah naungan KKSS. Kehadiran tokoh lintas etnis menunjukkan bahwa HMP adalah bagian dari kekuatan besar kebersamaan di Kalimantan Timur,” ujarnya.

Menurutnya, Muswil yang dibingkai dengan dialog publik mencerminkan budaya kekeluargaan yang hangat dan dewasa dalam berorganisasi.

“Kami menganut filosofi bahwa tidak harus sedarah untuk menjadi saudara. Nilai Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakamase menjadi fondasi dalam kehidupan berorganisasi,” tegasnya.

Mengusung tema “Merawat Warisan, Merajut Masa Depan”, Muswil HMP Kaltim kali ini menjadi momentum strategis untuk menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat tata kelola organisasi secara profesional dan modern.

Forum ini sekaligus menegaskan bahwa organisasi perantau tidak boleh hanya hidup dalam romantisme masa lalu, tetapi harus mampu bertransformasi dan memberi kontribusi nyata bagi daerah.

Hingga berita ini diturunkan, dialog publik 50 Tahun KKSS masih berlangsung dinamis dengan antusiasme tinggi dari para peserta yang aktif menyampaikan gagasan dan pandangan strategis untuk masa depan organisasi. (*)