KALTIMNEWS.CO – Tim Pra Musyawarah Wilayah (TPM) IX Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kalimantan Timur terus mematangkan tahapan menuju Muswil yang bermartabat dan berintegritas. Hampir dua bulan bekerja sejak dibentuk, TPM menegaskan komitmennya mendorong perubahan tata kelola organisasi yang lebih profesional dan produktif.
Ketua TPM, Rusman Yaqub, mengungkapkan bahwa kerja-kerja persiapan sudah dimulai sejak momentum family gathering di Balikpapan. Sejumlah agenda strategis telah dijalankan, termasuk mengundang akademisi, tokoh, dan sesepuh Sulawesi Selatan di Kaltim untuk memberikan masukan.
“Alhamdulillah, respons para akademisi dan sesepuh sangat antusias. Mereka memiliki komitmen kuat terhadap kemajuan KKSS. Ini menjadi energi besar bagi kami di TPM,” ujar Rusman.
Lima Agenda Strategis TPM
Rusman menjelaskan, TPM merumuskan lima agenda utama dalam mengawal Muswil IX KKSS Kaltim.
Pertama, mendorong lahirnya kepengurusan yang akomodatif sekaligus produktif. Menurutnya, organisasi tidak cukup hanya merangkul semua pihak, tetapi juga harus mampu menghasilkan program nyata.
“Tidak ada gunanya akomodatif kalau tidak produktif. KKSS harus profesional dalam tata kelola, meski berbasis kekerabatan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa kunci perbaikan tata kelola ada pada proses rekrutmen kepemimpinan yang sehat. Jika proses pemilihan berjalan baik, maka sistem organisasi akan ikut membaik.
Kedua, memastikan program KKSS benar-benar berorientasi pada kesejahteraan publik dan mendukung pembangunan daerah. Dengan komposisi warga Sulawesi Selatan yang diperkirakan mencapai sekitar 35 persen dari total 3,8 juta penduduk Kalimantan Timur, KKSS memiliki peran strategis sebagai pilar organisasi kemasyarakatan.
“Kita ingin KKSS memikirkan warganya bersama pemerintah daerah. Kontribusi kita harus nyata untuk kemajuan Kalimantan Timur tanpa melihat latar belakang suku,” katanya.
Dorong Musyawarah Mufakat, Tinggalkan Pola Transaksional
Agenda ketiga yang menjadi perhatian serius TPM adalah mekanisme pemilihan Ketua Umum KKSS.
Rusman mengakui, selama ini muncul keluhan soal praktik pemilihan yang dinilai cenderung transaksional dan beraroma kekuasaan. Pola seperti itu, menurutnya, berpotensi melahirkan friksi internal dan mereduksi kekuatan moral organisasi.
“Ada kerinduan besar dari warga KKSS agar meninggalkan cara-cara transaksional. Kita dorong proses pemilihan melalui musyawarah mufakat, atau bahkan aklamasi, meskipun tantangannya tidak kecil,” ujarnya.
TPM, lanjut Rusman, hanya menyiapkan format dan kerangka perbaikan. Keputusan tetap berada di tangan para pemilik suara dalam Muswil nanti.
“Kalau momentum ini tidak kita manfaatkan, kita bisa kehilangan kesempatan untuk melakukan perubahan besar,” tambahnya.
Sekretariat sebagai Pusat Energi Organisasi
Agenda keempat adalah penguatan sekretariat sebagai simbol dan pusat energi organisasi. Menurut Rusman, sekretariat bukan sekadar tempat administratif, tetapi menjadi pusat spektrum gerakan dan distribusi sumber daya.
“Kalau tidak ada sekretariat yang hidup, sulit mengelola energi SDM dan resources yang kita miliki. Di situlah ruh organisasi,” tegasnya.
Kembali ke Jati Diri dan Nilai Budaya
Agenda terakhir adalah mengembalikan marwah KKSS pada nilai-nilai filosofi dan budaya Sulawesi Selatan.
Rusman menilai, modernisasi organisasi tidak boleh membuat KKSS kehilangan identitas dan jati diri.
“Semodern apa pun organisasi ini, kita tidak boleh kehilangan nilai budaya dan filosofi hidup orang Sulawesi Selatan. Itu identitas kita,” katanya.
11 Anggota TPM Berikrar Netral
Rusman juga menjelaskan bahwa TPM beranggotakan 11 orang yang lahir dari inisiatif anak-anak muda KKSS yang merindukan demokrasi damai.
Ia menegaskan, seluruh anggota TPM telah berikrar menjaga netralitas dan tidak boleh memihak atau menjadi kandidat dalam Muswil.
“Kami sepakat tidak boleh menjadi bagian dari salah satu kandidasi. Bahkan tidak boleh tergoda untuk maju sebagai calon. Ini demi menjaga integritas TPM,” ujarnya.
Terkait pro dan kontra atas kehadiran TPM, Rusman menilai hal itu wajar dalam dinamika organisasi. Namun ia memastikan, TPM akan terus bekerja dengan pendekatan dialogis.
Sebelum Muswil digelar, TPM berencana mengadakan forum silaturahmi dan diskusi bersama para pemilik suara serta kandidat, guna mendorong lahirnya kesepakatan bersama.
“Ayolah berembuk. Yang terpilih jangan merasa paling hebat, yang tidak terpilih jangan merasa tersisih. Ini organisasi kekerabatan. Intinya kebersamaan,” tutup Rusman Yaqub. (*/rif/kaltimnews.co)