KALTIMNEWS.CO - Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Harminsyah P, menyoroti masih kuatnya stigma terhadap penderita TBC dan HIV/AIDS di tengah masyarakat.
Dalam kegiatan Sosialisasi Peraturan Daerah (Sosperda) ke-3 yang digelar pada 25 Maret 2026, ia menegaskan bahwa stigma justru menjadi penghambat utama dalam penanganan penyakit menular.
“Banyak kasus yang terlambat ditangani karena penderita takut terbuka. Ini yang harus kita ubah bersama,” ujarnya.
Kegiatan yang berlangsung di Samarinda Ilir itu melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga kader posyandu. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan dalam membangun pemahaman yang lebih inklusif.
Menurut Harminsyah, pendekatan sosial menjadi sama pentingnya dengan pendekatan medis. Edukasi yang tepat dinilai mampu mendorong masyarakat untuk lebih peduli, sekaligus mengurangi diskriminasi.
Ia juga menekankan pentingnya deteksi dini dan pola hidup sehat sebagai langkah konkret pencegahan. Namun, semua itu tidak akan berjalan efektif tanpa dukungan lingkungan sosial yang terbuka.
“Kalau masyarakat masih memberi stigma, maka upaya pencegahan akan sulit maksimal,” katanya.
Melalui Sosperda ini, DPRD ingin memastikan bahwa pesan kesehatan menjangkau hingga lapisan paling bawah. Bukan hanya dipahami, tetapi juga dijalankan secara kolektif.
Momentum Halal Bihalal yang menyertai kegiatan tersebut dimanfaatkan untuk membangun kedekatan emosional antarwarga, sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah diterima.
Di tengah tantangan yang ada, Harminsyah menegaskan satu hal: keberhasilan melawan TBC dan HIV/AIDS tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi oleh sejauh mana masyarakat bersedia terlibat tanpa prasangka.(*/adv/rif/kaltimnews.co)