Skip to content

Pesona Tersembunyi di Muara Enggelam (Satu)

Desa Tertinggal Yang Menyimpan Segudang Prestasi

Dipublikasikan: 21 Jun 2020, 15:19
Pesona Tersembunyi di Muara Enggelam (Satu)
Desa Muara Enggelam -- www.kaltimnews.co / Foto: Arief Kaseng

KALTIMNEWS.CO, Kukar – Cuaca cerah mengiringi perjalanan kami menuju ke Desa Muara Enggelam Kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara, sesekali sengatan terik matahari dari atas langit biru menerpa kulit kami yang lagi asyik menikmati bentangan sungai mahakam dari atas perahu yang bermuatan enam orang.

Desa Muara Enggelam memang menjadi tujuan wisata kami kali ini, sejumlah potensi akan alam keraifan local, wisata alam, ekowisata serta sosial budaya-nya tidak menyurutkan niat kami untuk menempuh perjalanan selama kurun waktu empat jam lamanya yang ditempuh dengan jalur darat serta jalur air selanjutnya.

grafis-muara-enggelam.

Desain --kaltimnews.co / Arief kaseng

Untuk sampai ketempat ini, anda akan dimanjakan dengan pemandangan sungai mahakam di Muara Muntai yang mengarahkan anda masuk ke anak sungai yang menghubungkan danau melintang.

Anak sungai rebak rinding itulah sebutan anak sungai mahakam di wilayah Mura Muntai ini, dari sini perjalanan kami artinya hanya tinggal lima puluh menit dari total waktu perjalanan. 

Waktu menujukkkan pukul 19.10 wita, kami dan rombongan akhirnya tiba di distinasi tujuan, kami sempat terpukau dengan sajian sunset (matahari terbenam) di desa yang berada diatas air tersebut. Sungguh hal yang membuat kami berdecak kagum akan eksotis alam yang belum terjamah dengan industry tersebut.

Vinesia Kaltim, mungkin itu kata yang pantas untuk wilayah yang didiami oleh sekira 750 orang penduduk yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan tangkap danau tersebut.

rumah-rakit-muara-enggelam.

salah satu pengujung Desa Muara Enggelam tengah menikmati kuliner ikan salai khas Desa muara Enggelam -- www.kaltimnews.co / Foto: Arief Kaseng

Desa Muara Enggelam sendiri merupakan satu diantara tujuh desa yang berada di barat danau melintang, di tempat ini selain sajian sunset maupun sunrise-nya yang membuat mata takjub, sepanjang bibir danau kita akan di suguhkan dengan sajian rumah terapung atau rumah rakit yang membentang sepanjang disisi kiri kanan sepanjang satu kilometer Sungai Enggelam.

Rumah rakit ini merupakan rumah khas yang hanya bisa temui di Muara Enggelam, lantaran di desa ini yang sejatinya tak memiliki daratan sama sekali. Secara topografi, kawasan desa masih berada di areal Danau Melintang. Kalaupun ada daratan, biasanya menunggu musim kemarau datang yang membuat air danau mengering, itupun luasannya hanya seukuran dua kali lapangan sepak bola ukuran internasional saja.

Perjalanan kami kemudian terhenti di salah satu kediaman milik Ibu Rahmi yang merupakan salah satu diantara ratusan pemilik rumah rakit tradisonal di desa ini, secara umum rumah rakit ini tampak seperti rumah pada umumnya yakni memiliki dua ruangan sebagai tempat tidur, satu ruang dapur dan ruang tamu yang juga bisa di gunakan untuk istirahat lesehan yang kadang harus begoyang saat ombak menerpa.

Sayangnya potensi ini belum dikemas layaknya penginapan ala modern, mungkin karena masyarakat atau pemerintah setempat belum memikirkan dampak wisata eksotik yang dapat menarik pelancong baik dalam maupun luar negeri untuk menikmati sajian rumah rakit tersebut.

Dari atas rumah rakit inilah aktifitas nelayan mengais rezeki, seperti memancing ikan bahkan menagkap ikan dengan menggunakan perangkap tradisional yang mereka sebut dengan acau maupun rebaan, ikan salai itulah nama ikan yang menjadi ciri khas kuliner di wilayah ini, ikan yang mereka tangkap tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dan selebihnya diolah menjadi ikan olahan ikan asap yang dipercaya memiliki kandungan protein yang cukup tinggi.

Keberadaan desa ini tidak lepas sejarahnya dari keberadaan rumah rakit. Bisa dikatakan desa ini tercetus dari hadirnya rumah rakit yang menghisasi dia sisi wilayah Muara Enggelam yang berada di muara sungai yang bertemu dengan danau serta dikelilingi oleh rawa-rawa. Dalam sejarahnyan sebelum menjadi Desa, Muara Enggelam awalnya merupakan salah satu dusun dari Desa Melintang kemudian dimekarkan pada tahun 2017 silam sebagai salah satu desa definitif dan merupakan salah satu desa tertinggal data Indeks Desa Membangun (IDM) tahun 2018/2019, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) Republik Indonesia.

Kendati menyandang desa tertinggal, justru menjadi pelecut semangat aparat desa yang berkolaborasi dengan masyarakat setempat untuk terus memajukan Desa Muara Enggelam yang dihuni dengan mayoritas suku asli kutai ini.

gapura-muara-enggelam.

Gapura Cinta Negeri: Gapura ini merupakan pintu gerbang sekaligus sebagai alat pemecah gelombang yang dibuat warga Muara Enneglam, Gapura ini membawa nama Muara Enggelam tercatat sebagai nominasi sepuluh besar dari ribuan gapura umum yang dipertandingkan di 2019 lalu -- www.kaltimnews.co / Foto: Istimewa

Sejumlah karya inovatif yang unik pun diperlihatkan oleh desa ini, sebut saja jembatan kayu layaknya London Tower Bridge yang ikonik, Dari data yang didapatkan media ini, Jembatan yang diresmikan pada tahun 2011 silam tersebut, sengaja didesain warga setempat agar tidak terhalang saat menggunakan transportasi sungai kala air pasang.

Selain jembatannya, desa ini juga sempat viral lantaran memiliki gerbang desa yang berfungsi sebagai pemecah ombak dan terdiri dari tanggul setinggi setinggi 10 meter dan lebar 100 meter ini dicat secara gotong royong oleh warga setempat. Bahkan Gapura ini masuk dalam 10 besar nomiminasi Gapura cinta negeri yang mendapat penghargaan langsung dari Presiden RI Joko Widodo pada 17 Juli 2019 kemarin. Gapura dari desa ini bersaing dengan 1.793 peserta dari seluruh Indonesia dalam kategori Gapura Umum.

Ditahun 2015 silam Badan Usaha Milik Desa (BumDes) "Bersinar Desaku" kemudian berdiri. Dari sini sejumlah kegiatan usaha seperti Budidaya sarang walet, penyediaan sarana olahraga, pengolahan ikan hingga penambahan daya PLTS komunal (simak edisi selanjutnya) dikembangkan.  (Bersambung)