Skip to content

Muswil IX KKSS Kaltim Dibuka, Andi Harun: Jangan Biarkan Organisasi Kehilangan Nilai “Ade”

Dipublikasikan: 31 May 2026, 14:58
Muswil IX KKSS Kaltim Dibuka, Andi Harun: Jangan Biarkan Organisasi Kehilangan Nilai “Ade”

KALTIMNEWS.CO, Samarinda — Musyawarah Wilayah (Muswil) IX Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kalimantan Timur resmi dibuka di Hotel Puri Senyiur, Samarinda, Sabtu malam. Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong oleh Andi Harun di hadapan ratusan peserta yang memadati lokasi kegiatan.

Forum lima tahunan warga Sulawesi Selatan di Kalimantan Timur itu menjadi momentum penting untuk menentukan arah organisasi sekaligus memilih kepengurusan baru untuk periode mendatang.

Dalam sambutannya, Andi Harun mengingatkan bahwa Muswil tidak semata-mata menjadi arena pergantian kepemimpinan. Menurut dia, forum tersebut harus dimanfaatkan sebagai ruang evaluasi terhadap peran dan kontribusi organisasi di tengah masyarakat.

“Musyawarah wilayah bukan hanya memilih ketua. Yang lebih penting adalah mengevaluasi sejauh mana organisasi memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah,” kata Andi Harun.

Ia menilai organisasi kemasyarakatan saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Salah satunya adalah masuknya praktik-praktik politik yang berpotensi menggeser fungsi utama organisasi sosial budaya.

Karena itu, Andi Harun meminta peserta Muswil mempertimbangkan secara matang figur yang akan diberi mandat memimpin KKSS Kaltim. Menurut dia, dukungan tidak cukup hanya didasarkan pada kedekatan personal, melainkan harus melihat visi dan kapasitas calon dalam membawa organisasi menghadapi perubahan zaman.

Dalam pidatonya, Andi Harun juga menyoroti mulai memudarnya nilai-nilai budaya yang selama ini menjadi fondasi masyarakat Bugis-Makassar. Ia secara khusus menyinggung konsep “Ade”, yakni tata nilai, etika, dan penghormatan terhadap orang yang lebih tua.

“Sekarang ini ada kecenderungan nilai Ade tidak lagi menjadi pertimbangan utama dalam kehidupan berorganisasi. Padahal, penghormatan kepada orang tua dan tokoh merupakan bagian penting dari tradisi musyawarah yang diwariskan leluhur,” ujarnya.

Menurut Andi Harun, budaya Bugis-Makassar mengenal prinsip sipakatau atau saling memanusiakan, sipakalebbi atau saling menghormati, serta sipakainge atau saling mengingatkan. Nilai-nilai tersebut, kata dia, harus tetap menjadi pedoman dalam setiap proses pengambilan keputusan di lingkungan KKSS.

Ia mengingatkan bahwa organisasi yang dibangun di atas landasan budaya akan kehilangan identitas jika tidak lagi menjadikan adab sebagai pijakan utama.

“Jangan sampai organisasi besar seperti KKSS kehilangan ruhnya. Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi nilai-nilai dasar yang diwariskan para pendahulu harus tetap dijaga,” katanya.

Andi Harun juga mendorong keterlibatan generasi muda dalam organisasi. Namun, menurut dia, partisipasi generasi muda perlu berjalan seiring dengan penghormatan terhadap pengalaman dan pandangan para senior.

“Anak-anak muda harus diberi ruang untuk tampil. Tetapi dalam tradisi kita, pandangan orang tua tetap memiliki tempat yang terhormat dalam proses musyawarah dan mufakat,” ujarnya.

Muswil IX KKSS Kaltim dijadwalkan berlangsung selama dua hari. Selain mendengarkan laporan pertanggungjawaban pengurus, forum ini juga akan membahas program kerja organisasi dan memilih Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) KKSS Kalimantan Timur untuk periode berikutnya. (rif/kaltimnews.co)